Memiliki atau Memendam?

 Memiliki atau Memendam?

Pernah nggak sih ngerasain atau paling enggak mikirin perbedaan vibesnya memiliki seseorang dengan hanya memendam perasaan saja tanpa harus memiliki.  Yap, kali ini aku bakalan sharing sih dua hal ini dari sudut pandangku yah tentu karena pernah mengalami. 

Jadi dulu tuh, aku orangnya yang nggak bisa dibilang beruntung kalo soal menyangkut perasaan memiliki. Yah gimana, setiap suka sama orang rasanya tuh selalu one sided (one sided love), jarang banget two sided. Saat teman-temanku yang lain bisa menjalin hubungan sama orang yang mereka mau dan mereka suka tuh kalo aku lihat nih yah kayak privilage banget. Jadinya mereka punya banyak pengalaman soal hubungan sama orang yang bisa dia ceritakan ke orang lain. Kalo aku malah punya hubungan sama orang cuma tiga kali seumur hidup hehe kebanyakan sih yah cuma aku yang suka sama mereka dan mereka nggak, atau bisa jadi sebaliknya. Tipekal orang kayak aku nih yah kata temanku adalah orang yang ribet wkwk, pas disukain sama orang akunya nggak mau padahal mau juga punya relationship kayak yang lain haha...

Dua kali punya hubungan pacaran sama orang itu cuma pas smp dan sma yah masa-masa labil lah, masa-masa remaja tapi waktu itu emang proses move onnya juga lama dan butuh bertahun-tahun. Tipe orang yang sekalinya jatuh cinta jadi bucin, sekalinya patah hati malah susah buka hati hmm.

Kalo masalah memendam mungkin aku sih jagonya wkwk, yah walaupun ketahuan akhirnya entah karena pada akhirnya saya bilang ke orangnya biar legah atau karena tindakanku yang terlalu kentara. Waktu zaman-zaman memendam itu, teman-temanku sampai bilang kayak begini "saya orang paling anti ungkapkan perasaan duluan ke cowok atau jadi cewek itu harus gengsian dsb" i know maksudnya cuman menurut pandanganku sendiri nih yah, kalo memendam terus akhirnya menerka-nerka terus kayak 'dia suka nggak yah sama aku? , atau kayak mengambil kesimpulan sendiri dan akhirnya patah hati sendiri atau geer sendiri' , jadi menurutku lebih baik bilang sih walaupun setelahnya pasti malu, cuman kan nggak semua orang bisa memendam terus adakalanya orang butuh legah dan butuh kepastian.

Yah menurutku mengungkapkan perasaan bukan berarti minta seseorang untuk jadi milik kita kan? Banyak banget kejadian kalo misalnya mengungkapkan perasaan disangkanya meminta seseorang jadi hak milik. Yah kalo orangnya senang dan suka sama kita pasti responnya bisa sesuai harapan, tapi kalo orangnya nggak punya perasaan sama kayak yang kita punya yah palingan juga mereka bakal bilang 'nggak dulu, kita temanan saja karena saya nggak mau kehilangan teman, atau respon lainnya adalah menjauh'. Intinya sih yang jelas legah dan nggak buang-buang waktu untuk menerka-nerka lagi mau direspon dengan baik alhamdulillah, kalo sebaliknya juga nggak apa-apa. Tapi beberapa kejadian di saya adalah ketika suka sama seseorang dan akhirnya ketahuan atau saya bilang ke dia nih tapi responnya nggak sesuai biasanya saya yang malah menjauh yah karena misi penyelamatan hati itu penting wkwk.

Tapi ada beberapa orang yang pernah saya sukai sebelumnya responnya bagus menurutku yah walaupun kita nggak bisa sama-sama tapi caranya menunjukkan penolakan dengan cara yang elegan dan dewasa menurutku kan biasa nih yah ada beberapa orang kalo mereka tau kita suka sama mereka dan mereka nggak suka kita, maka responnya adalah menjauh. Yah gapapa sih haknya juga, cuman kayak nggak dewasa aja haha. Kalo di aku sih mending aku yang menjauh daripada harus mereka haha. Jadinya kan kalo kita selesai dengan urusan seperti itu, tinggal urusan kita apakah masih mau mempertahankan perasaan ke mereka atau memilih pergi.

Dan semua punya konsekuensi yang pastinya perasaan sendiri bakal di uji lagi wkwk, intinya urusan kayak gitu tuh jadi hak sepenuhnya kita dan sama sekali nggak bisa dipaksain juga. Kalo memilih tetap menyukai berarti harus rela juga kalo nantinya orang tersebut bahagia dengan pilihannya yang bukan kita dan itu nyessek. Dan kalo memilih pergipun pasti nggak semua orang bisa langsung move sih, jadi banyak juga yang cari pelarian berhubungan dengan orang lain tapi perasaannya nggak sama orang itu. Tapi kalo move on juga yakin deh karakter akan terbentuk sendiri malah bakal lebih santai aja ke depannya.

Kalo urusan memiliki sama orang yang ketiga ini paling banyak strugglenya. Senangnya ada, sedihnya ada, marahnya, kecewanya, bertengkarnya, pokoknya komplit. Dan perasaan itu untuk pertama kali kurasakan sama dia, maksudku adalah punya hubungan tapi bisa sering ketemu, bisa marah sepuasnya, pokoknya kayak orang berpacaran pada umumnya, dan oh iya dia orang pertama yang pada akhirnya saya berani membawa seseorang ke rumahku dan bertemu orang tuaku. Karena ekspektasiku waktu pertama kali bersamanya karena pada akhirnya orang yang ku sukai ini bisa juga menyukaiku dan kami bisa berhubungan seperti kebanyakan orang. Waktu itu yang kurasa mungkin ini yang terakhir dan bakal ku ajak untuk hubungan serius yah karena saya merasanya kita saling menyukai dan menyayangi.

Belum sama sekali memikirkan endingnya seperti apa, pokoknya maunya bahagia terus namun nyatanya setelah dijalani dan akhirnya saya menyadari kalo hubungan itu nggak bisa bahagia terus, pasti banyak sekali problem yang bakal dihadapi. Sebulan, dua bulan mungkin masih tahap mengenal karakter dan sifat asli belum kelihatan, ekspekastipun masih tinggi disana. Bulan selanjutnya sudah mulai kelihatan beberapa sifat, sikap, dan masalah menyesuaikan diri mulai bermunculan. Saat itu berpikir lagi lah saya bahwa 'oh ternyata memilki nggak seindah itu' tapi karena saya nggak mau menuruti ego dan ekspektasi makanya memilih maklum dan menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Waktu berjalan makin banyak saja masalah yang muncul, pada akhirnya orang itu menyerah dan sayapun waktu itu menahannya tapi gagal. 

 Akhirnya saya menerima keputusannya dan mulai menjauhinya selang waktu dia datang lagi dan karena saya sayang dia waktu itu kami berhubungan lagi tapi tidak berpacaran tapi hts dan itu terjadi bertahun-tahun, dulu saya berpikir nggak apa-apa yang penting dia tetap ada sama saya, karena saya selalu butuh dia untuk kuat menjalani hari-hari walaupun kami komunikasi tidak setiap hari. Saya rela dia nggak mengakui hubungan kami didepan orang-orang, saya rela dia tidak menganggap saya ada jika didepan orang lain, saya rela ketemu dia diam-diam supaya orang lain nggak tau, tapi teman-teman saya tau kalo saya sama dia backstreet. Semakin lama mulai terbentuk pikiran bahwa ternyata memiliki nggak seindah yang saya bayangkan atau memang saya nggak cocok untuk itu, atau saya masih butuh kekuatan ekstra untuk beradaptasi sama keadaan.

Setiap orang bakalan terlihat salah kok dicerita orang lain dan saya mengerti kalo diceritanya sendiri saya masih banyak kurangnya. Saya pun juga banyak salahnya, suka marah, ngambekan juga, tapi saya berterima kasih karena orang ini sudah sabar hadapi saya, walaupun kadang omonganku pedas. Intinya kami grow up dengan memberi luka masing-masing. Banyak cerita yang nggak bisa saya tulis karena kenangan sama dia juga banyak, chatnya dulu sekali seminggu yang selalu saya tunggu dan bisa buat mood saya yang berantakan jadi balik lagi.

 Dia yang selalu jadi tempat pulang buat cerita kalo saya nggak bisa cerita ke orang lain, dia yang selalu nasihatin saya kalo ada salah, dia yang tanpa berucap tapi cuma lihat dia saya rasa masalahku langsung pergi sejenak. Saya selalu menganggap kami cuma ketemu diwaktu yang salah, saya berharap suatu saat dia bisa grow lebih baik dengan prosesnya dan berubah jadi lebih baik, begitupun saya. Saya nggak tau masa depan bakal kayak gimana, tapi saya selalu berharap bisa bertemu kembali dengan dia disaat yang sudah tepat. 

Pada akhirnya saya sadar, kenapa saya bisa jadi bego untuk waktu yang lama adalah karena ada kebutuhan dalam diriku sendiri yang tidak terpenuhi tapi pas ketemu orang lain yang bisa penuhi kemudian saya takut itu hilang bahkan beranjak pergi meninggalkan. Semacam egois mungkin tapi kebutuhan diri sendiri itu perlu disadari loh. Yah nggak apa-apalah untuk salah dan bodoh asalkan bisa berubah jadi benar dan pintar. Toh, orang-orang yang hadir di hidup kita kalo nggak jadi teman hidup yah pasti jadi pengalaman hidup. 

Jadi sekarang kalo disuruh memilih memiliki dan memendam, kayaknya dua-duanya boleh dipilih tapi persiapkan diri aja sih sama konsekuensi haha. Semua ada positif negatifnya kok :'. Dan selalu ingat bahwa kamu yang kemarin nggak sama dengan hari ini, pasti bakal bertumbuh dengan pemikiran lebih hebat lagi ke depannya. Semua orang berpotensi besar buat berubah, begitupun perspektif dan sikapnya.

 


Komentar